Co-Coghén
merupakan
tradisi yang sudah ada sejak jaman dulu. Entah siapa pencetusnya? Entah sejak tahun
berapa mulai diadakan. Tradisi
co-coghén biasanya dilaksanakan pada tanggal 1 bulan Mulod (Rabiul
Awal) berdasar penanggalan Madura. Penanggalan Madura dimulai dari bergesernya
matahari ke arah barat, tepatnya setelah lohor. Dalam hal ini, orang
Madura punya penanggalan sendiri. Saya sendiri menyebutnya dengan Penanggalan
Madura kuno.
Penanggalan Madura ini hanya akrab di kalangan sesepuh.
Setiap daerah di Madura
punya julukan tersendiri dalam
merayakan tanggal pertama bulan Rabiul Awal ini. Co-Coghén digunakan
masyarakat di Desa Tlomar, Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan. Tradisi co-coghén
dilaksanakn pada malam hari, tepatnya setelah salat
maghrib. Dulu aku dan teman-teman begitu senang jika mendengar co-coghén
telah tiba. Bahkan dari jauh hari kami
membicarakannya. Semua temanku senang dengan perayaan co-coghén, baik
teman sekolah dasar maupun teman sekolah madrasahku.
Kami mempersiapkan bermacam buah,
makanan ringan, dan sebagainya untuk dibawa ke langghér1 tempat
mengaji kami. Di sinilah semua macam buah, makanan ringan, dan sebagainya
dikumpulkan menjadi satu dan kemudian dibagi rata.
Langkah riang kami menuju
langghér tak dapat diungkapkan melalui kata-kata. Kami
begitu senang. Dengan
senyum lebar kami membawa
buah kami menuju langghér. Kami saling memandang buah bawaan
masing-masing. “Wah,
nanti aku minta yang ini ya,” canda kami begitu senang. Co-Coghén dilaksanakan
sebagai tanda bahwa sebentar lagi maulid Nabi Muhammad SAW akan
tiba. Kami menantikan bulan penuh berkah ini dengan hati berbunga.
Bukan hanya penuh berkah, tetapi penuh dengan buah pula. Kata nenek, co-coghén sudah ada sejak
dulu dan sekarang kamilah penerusnya tanpa menjelaskan siapa pencetusnya.
Apabila semua orang
telah berkumpul dengan bawaannya masing-masing, acara Co-Coghén-pun
dimulai. Semua buah atau semacamnya dikumpulkan di tengah-tengah kami.
Kami duduk membentuk sebuah lingkaran dan ustad yang akan memulainya. Karena
sebagai pengingat bahwa maulid Nabi Muhammad SAW segera tiba, co-coghén
dimulai dengan pembacaan sholawat. Kami begitu senang, penuh semangat memanjatkan
sholawat
kepada nabi tercinta. Kami berharap
syafaatnya di akhirat kelak. Kami makin semangat tatkala lantunan sholawat fi
hubbi mulai dibaca. Itu pertanda bahwa
sholawat bersama akan usai, semakin lantang kami melantunkannnya hingga urat di
leher terlihat begitu jelas melilit.
Setelah itu kami bisa
berbagi makanan satu sama lain. Tentu kami sangat senang, senyum kami sumringah
mendapat makanan dari teman-teman kami. Kadang kami berebutan untuk
mendapatkan sesuatu yang kami
inginkan, dan
itulah kebahagiaan yang sebenarnya.
Co-Coghén tak
hanya dilaksanakan di langgar tempat kami mengaji. Selanjutnya, co-coghén
dilaksanakan di pemakaman umum desa kami. Di sana
kami akan berkumpul dengan seluruh masyarakat Desa Tlomar. Tak seperti co-coghén
di langgar yang sudah kami lakukan, di pemakaman umum
ini kami akan mengadakan tahlil, dilanjutkan bersholawat bersama. Mendoakan para
leluhur yang telah mendahului kami.
Kuburan tampak terang
pada malam itu. Lampu
penerang di mana-mana.
Lantunan sholawat juga menghiasi malam
sunyi di kuburan. Hingga akhir acara, sesuatu yang kami tunggu akan dibagikan. Bérkat2, begitu kami
menyebutnya. Sebuah bungkusan plastik hitam yang berisi sebungkus nasi dan buah
di dalamnya. Kami kadang menyembunyikan yang kami dapat dan memintanya lagi. “Wah,
aku dapat dua, kamu dapat berapa?” Kami saling lempar tanya
dengan begitu
semangat. Kami juga akan memamerkan ke teman sekolah kami
kalau kami dapat banyak bhérkat.
Co-Coghén adalah
tradisi. Kamilah yang punya tradisi ini. Kami yang punya tanggung jawab
menjalankannya. Dalam
tradisi ini, banyak sekali nilai yang bisa kami petik. Sama
seperti dulu ketika aku masih duduk di bangku kelas dasar, sampai
saat ini co-coghén
masih menjadi momen yang ditunggu-tunggu anak kecil. Begitu pun
saya. Seperti yang telah saya katakan,
kami membicarakannya jauh hari. Memikirkan, “Nanti saya bawa buah
pear, bawa apel, bawa salak, bawa apa lagi ya?”. Co-Coghén membuat kami
begitu semangat menyambut hari
lahir Nabi Muhammad SAW.
Catatan:
1. Langghér, langgar atau musala dalam bahasa Indonesia.
2. Bérkat, sebuah
bingkisan atau barang yang dibagikan setelah melakukan sesuatu. Isinya
bermacam, terserah si pemberi.
Fathur
Rohman mahasiswa angkatan 2013
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas
Trunojoyo Madura.

0 komentar:
Posting Komentar