Co-Coghén

Oleh Fathur Rohman

Co-Coghén merupakan tradisi yang sudah ada sejak jaman dulu. Entah siapa pencetusnya? Entah sejak tahun berapa mulai diadakan. Tradisi co-coghén biasanya dilaksanakan pada tanggal 1 bulan Mulod (Rabiul Awal) berdasar penanggalan Madura. Penanggalan Madura dimulai dari bergesernya matahari ke arah barat, tepatnya setelah lohor.  Dalam hal ini, orang Madura punya penanggalan sendiri. Saya sendiri menyebutnya dengan Penanggalan Madura kuno. Penanggalan Madura ini hanya akrab di kalangan sesepuh.

Setiap daerah di Madura punya julukan tersendiri dalam merayakan tanggal pertama bulan Rabiul Awal ini. Co-Coghén digunakan masyarakat di Desa Tlomar, Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan. Tradisi co-coghén dilaksanakn pada malam hari, tepatnya setelah salat maghrib. Dulu aku dan teman-teman begitu senang jika mendengar co-coghén telah tiba. Bahkan dari jauh hari kami membicarakannya. Semua temanku senang dengan perayaan co-coghén, baik teman sekolah dasar maupun teman sekolah madrasahku. Kami mempersiapkan bermacam buah, makanan ringan, dan sebagainya untuk dibawa ke langghér1 tempat mengaji kami. Di sinilah semua macam buah, makanan ringan, dan sebagainya dikumpulkan menjadi satu dan kemudian dibagi rata.

Langkah riang kami menuju langghér tak dapat diungkapkan melalui kata-kata. Kami begitu senang. Dengan senyum lebar kami membawa buah kami menuju langghér. Kami saling memandang buah bawaan masing-masing. “Wah, nanti aku minta yang ini ya,” canda kami begitu senang. Co-Coghén dilaksanakan sebagai tanda bahwa sebentar lagi maulid Nabi Muhammad SAW akan tiba. Kami menantikan bulan penuh berkah ini dengan hati berbunga. Bukan hanya penuh berkah, tetapi penuh dengan buah pula.  Kata nenek, co-coghén sudah ada sejak dulu dan sekarang kamilah penerusnya tanpa menjelaskan siapa pencetusnya.

Apabila semua orang telah berkumpul dengan bawaannya masing-masing, acara Co-Coghén-pun dimulai. Semua buah atau semacamnya dikumpulkan di tengah-tengah kami. Kami duduk membentuk sebuah lingkaran dan ustad yang akan memulainya. Karena sebagai pengingat bahwa maulid Nabi Muhammad SAW segera tiba, co-coghén dimulai dengan pembacaan sholawat. Kami begitu senang, penuh semangat memanjatkan sholawat kepada nabi tercinta. Kami berharap syafaatnya di akhirat kelak. Kami makin semangat tatkala lantunan sholawat fi hubbi  mulai dibaca. Itu pertanda bahwa sholawat bersama akan usai, semakin lantang kami melantunkannnya hingga urat di leher terlihat begitu jelas melilit.

Setelah itu kami bisa berbagi makanan satu sama lain. Tentu kami sangat senang, senyum kami sumringah mendapat makanan dari teman-teman kami. Kadang kami berebutan untuk mendapatkan sesuatu yang kami inginkan, dan itulah kebahagiaan yang sebenarnya.
Co-Coghén tak hanya dilaksanakan di langgar tempat kami mengaji. Selanjutnya, co-coghén dilaksanakan di pemakaman umum desa kami. Di sana kami akan berkumpul dengan seluruh masyarakat Desa Tlomar. Tak seperti co-coghén di langgar yang sudah kami lakukan, di pemakaman umum ini kami akan mengadakan tahlil, dilanjutkan bersholawat bersama. Mendoakan para leluhur yang telah mendahului kami.

Kuburan tampak terang pada malam itu. Lampu penerang di mana-mana. Lantunan  sholawat juga menghiasi malam sunyi di kuburan. Hingga akhir acara, sesuatu yang kami tunggu akan dibagikan. Bérkat2, begitu kami menyebutnya. Sebuah bungkusan plastik hitam yang berisi sebungkus nasi dan buah di dalamnya. Kami kadang menyembunyikan yang kami dapat dan memintanya lagi. “Wah, aku dapat dua, kamu dapat berapa?” Kami saling lempar tanya dengan begitu semangat. Kami juga akan memamerkan ke teman sekolah kami kalau kami dapat banyak bhérkat.

Co-Coghén adalah tradisi. Kamilah yang punya tradisi ini. Kami yang punya tanggung jawab menjalankannya. Dalam tradisi ini, banyak sekali nilai yang bisa kami petik. Sama seperti dulu ketika aku masih duduk di bangku kelas dasar, sampai saat ini co-coghén masih menjadi momen yang ditunggu-tunggu anak kecil. Begitu pun saya.  Seperti yang telah saya katakan, kami membicarakannya jauh hari. Memikirkan, “Nanti saya bawa buah pear, bawa apel, bawa salak, bawa apa lagi ya?”. Co-Coghén membuat kami begitu semangat menyambut hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Catatan:
1. Langghér, langgar atau musala dalam bahasa Indonesia.
2. Bérkat, sebuah bingkisan atau barang yang dibagikan setelah melakukan sesuatu. Isinya bermacam, terserah si pemberi.

Fathur Rohman mahasiswa angkatan 2013 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Trunojoyo Madura.

Editor: Set Wahedi
Share on Google Plus

About Toccak Toccer

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar