Mengingat masa
keciku yang sangat menyenangkan, banyak permainan yang aku mainkan bersama
kawan-kawan kecilku. Permaianan yang kami mainkan antara lain, kelereng, kaccak, pet-julumpet, koje,
banteng, tek-ketegghan. Tapi dari sekian permainan yang aku mainkan,
tek-ketegghan yang menjadi permainan favoritku. Tek-ketegghan (petak umpet) adalah permainan tradisional yang tergolong digemari di desaku. Yap, tepatnya di Desa Lojikantang, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Aku kira tidak di
desaku saja permainan ini dimainkan. Sepertinya di beberapa daerah di
Indonesia mengenal permainan ini.
Permainan ini tidak susah dimainkan. Semua orang bisa melakukannya. Tek-ketegghan merupakan sejenis permainan
yang bisa dimainkan, minimal oleh dua orang. Akan tetapi semakin banyak pemain, semakin membuat permainan ini semakin seru. Cara bermain tek-ketegghan dimulai dengan hompimpa atau mengambil daun yang
salah satu daunnya sudah disobek. Apabila seorang pemain mengambil daun yang sobek, pemain tersebut akan menjadi “kucing” atau sebagai pencari para pemain yang
sedang bersembunyi. Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung minimal sepuluh. Kadang kalau ada teman yang usil disuruh menghitung sampai seratus. Kalau sudah demikian, apa tidak gempor mulut si kucing menghitung sampai seratus?
Biasanya si kucing menghadap tembok, pohon atau apa saja supaya tidak bisa melihat para pemain yang
lain yang lari untuk bersembunyi. Di desaku, tempat yang digunakan untuk berjaga ini disebut “Pal-Palan”. Setelah hitungan kesepuluh atau hitungan
yang telah disepakati bersama dan setelah para pemain bersembunyi,
si kucing pun mulai beraksi, mencari para pemain yang
bersembunyi. Jika si kucing menemukan seorang pemain,
maka dia akan menyebut nama pemain sambil menyeru “Pal-Palan” dengan mengucapkan kata “Pal”. Apabila hanya meneriakkan namanya saja, si kucing
dianggap kalah dan disuruh mengulang permainan dari awal.
Kegiatan
yang paling seru, yaitu saat si kucing sibuk mencari para pemain yang bersembunyi, seorang pemain yang statusnya masih sebagai “target
operasi” atau belum ditemukan dapat mengendap-endap menuju Pal-Palan. Jika berhasil menyentuhnya dan berkata “Pal”, maka semua pemain yang
sebelumnya ditemukan oleh si kucing dianggap tidak pernah ditemukan,
sehingga si kucing harus kembali menghitung dan mengulang permainan dari awal.
Permainan selesai setelah semua pemain ditemukan. Pemain yang pertama ditemukanlah
yang menjadi kucing berikutnya. Sering kali si kucing merasa bosan dan langsung pulang dan menghentikan permainan ini. Padahal teman-teman yang lain masih ingin melanjutkan permainannya.
Tapi si kucing sudah bosan dan capek harus mencari para pemain yang
masih bersembunyi entah di mana. Karena merasa kesal para pemain yang lain biasanya mengejek si kucing sambil bernyanyi, “Gilâ ka bengkona, gilâ ka bengkona, gilâ ka bengkona, gilâ ka bengkona, gilâ ka bengkona, gilâ ka bengkona” sampai puas.
Sebenarnya, aku
merasa kasihan. Tapi kami merasa kesal karena dia
bermaian dengan curang. Akibat nyanyian
kami, si kucing merasa sendiri. Merasa tidak punya teman. Si kucing menangis. Cengeng. Padahal sudah besar. Kalau sudah menangis, biasanya dia akan ‘lapor’ pada orang tuanya. Sudah tidak asing lagi mendengar hal seperti itu. Sudah menjadi tradisi di desaku hal-hal seperti itu.
Dulu permainan ini sering aku mainkan dengan teman-teman sebayaku. Aku sering memainkannya dengan Ika, sepupu sekaligus
sahabat dekatku. Dialah yang sering menemani hari-hariku. Selain dia, juga ada Lifa, Dian, Pur, Hendri, Yoehan, Helmy, Yani, Rohan, dan Noval. Karena
semakin banyak orang yang ikut bermain, semakin seru permainan ini untuk dimainkan. Tanah
kosong di belakang rumahku menjadi sarana utama kita untuk melakukan permaianan
tek-ketegghan. Selain tempatnya luas, tanah di belakang rumahku juga bersih. Setiap
hari nenekku sering membersihkannya. Di tanah itu, kami bebas berlarian. Kami bebas menghambur ke sana-ke sini tanpa
khawatir kaki kami disergap duri. Seperti anak-anak pada umumnya, hampir setiap hari kami memainkan permainan itu sampai tidak ‘mengenal’ namanya waktu.
Pada hari libur atau sepulang sekolah kami manfaatkan waktu dengan bermain tek-ketegghan atau bahkan ketika waktu istirahat sekolah, kami sering memainkannya. Sering kami dimarahi oleh orang tua kami karena lupa akan waktu. Kami tidak pernah mempedulikan itu semua. Bagi kami, yang utama adalah bermain, bisa tertawa bersama. Tapi seiring berjalannya waktu dan perubahan jaman,
kini permainan yang dulu sering kami mainkan mulai terlupakan. Anak-anak kecil zaman sekarang lebih gemar bermain dengan hal-hal yang berbau teknologi modern.
Dua belas tahun
telah beralalu, kini teman-teman kecil yang dahulu masih imut-imut sudah pada tumbuh
dewasa. Si Lifa yang biasa dipanggil “Si Manis”, kini melanjutkan
studi-nya di Malang. Yani, yang dipanggil “Si Preman” karena tomboynya
memilih berkarir, karena harus menjadi tulang punggung keluarganya. Rohan memilih untuk
menikah dan sekarang sudah punya anak berumur satu tahun. Pur, Hendri, Noval dan Helmy melanjutkan
studinya di Universitas Wiraraja Sumenep. Dian memilih
merantau ke Jakarta untuk bekerja, sedangkan Yoehan, yang
dipanggil “Si Mut-Mut” karena paling imut dan paling muda di antara kami, masih
duduk di bangku kelas # SMA. Katanya, dia mau melanjutkan studinya ke Malang.
Dan aku sekarang
melanjutkan studiku di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan. Itulah
ceritaku tentang permainan tradisional. Aku sungguh merindukan teman-teman kecilku itu. Bagaimana kabar kalian kini?
Ida Nuriyana, mahasiswa angkatan 2014 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FIP, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan.

0 komentar:
Posting Komentar