Bagi anak-anak kecil bermain pasti menjadi hal
yang sangat menyenangkan. Mereka kadang sampai akan lupa
dengan waktu. Itu karena mereka saking asyiknya bergulat
dengan dunia bermain mereka. Permainan tradisional anak kecil
begitu beragam dan menarik. Mereka bermain untuk mengisi
waktu senggang dan mencari hiburan.
Nah, berikut ini permainan tradisional
yang biasa aku mainkan saat kecil bersama teman-teman. Entah
itu, teman-teman yang di sekolah atau teman-teman di sekitar rumah. Permainan yang menghadirkan
keseruan menyelimuti suasana bahagia, riang dan gembira kala aku dan
teman-teman yang lain bermain bersama.
Dengan permainan ini, ini aku dan
teman-temanku seakan menumpahkan kebahagiaan dengan mencari kegembiraan yang
mendalam dan melupakan semua kesedihan hiruk-pikuk kehidupan. Meski
pada dasarnya, anak kecil minim sekali untuk merasakan kesedihan dan
kegalauan. Karena anak kecil masih imut-imut, bisa juga dikatakan masih
unyu-unyu. Singkatnya, masih poloslah.
Permainan tradisional
yang satu ini melatih
aku dan teman-teman untuk memahami kejujuran, kekompakan, dan kebersamaan. Permainan
tradisional yang sering aku mainkan saat masih kecil, permainan
“gobak
sodor”. Di daerahku, permainan disebut “slodor”.
Permainan slodor merupakan sebuah
permainan secara grup, yang terdiri atas dua grup
atau tim. Masing-masing grup bisa terdiri atas 3 sampai 5
orang atau bahkan bisa lebih. Inti permainan, menghadang
lawan agar tidak lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik. Untuk meraih
kemenangan, seluruh anggota tim harus secara lengkap melakukan permainan dengan
bolak-balik dalam area permainan yang sudah ditentukan.
Nah, permainan slodor ini biasanya dimainkan di
lapangan bulu tangkis atau lapangan voli, dengan acuannya yaitu garis-garis
pembatas yang biasanya sudah disepakati. Permainan ini juga bisa
dimainkan di halaman rumah yang lapang dengan diberi tanda atau batas-batas
untuk garis permainan. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda
dengan kapur atau membuat tanda dengan alas kaki
yang digunakan para pemain.
Dalam ingatanku, permainan ini sangat
menyenangkan dan menghibur. Aku sering bermain permainan
slodor ini ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Biasanya
permainan ini dimainkan oleh anak-anak sekolah dasar yang rata-rata usianya 7
sampai 12 tahun.
Dulu aku memainkannya bersama teman-teman di
lapangan sekolah atau di tanah lapang, dengan dukungan rindang
pepohonan, membuat
kami
semakin asyik bermain. Bila di sekolah permainan ini lebih sering kami mainkan
pada jam istirahat. Bila bel istirahat berbunyi dan teman-teman
sepakat untuk bermain, kami segera bergegas untuk menyusun persiapan awal
pemainan “slodor” yaitu dengan membagi siapa yang akan menjadi tim penjaga dan
tim lawan.
Permainan ini dapat dimulai dengan membuat garis
atau batas seperti lapangan bulu tangkis yang berpetak-petak. Membagi pemain
menjadi dua tim. Jumlah anggota pemain tentu harus sama. Satu tim akan menjadi
penjaga dan tim yang lain akan menjadi tim lawan. Tim yang mendapat
giliran jaga akan menjaga lapangan dari lawan dengan menghalangi menggunakan
tangan atau kedua tangannya. Setiap anggota tim yang
mendapat giliran untuk menjaga garis penjagaan lapangan terbagi menjadi dua,
yaitu anggota tim yang menjaga garis horizontal dan ada garis vertikal. Bagi
anggota atau pemain yang menjaga garis horizontal, mereka harus
berusaha menghalangi lawan agar tidak bisa melewati garis batas dan lolos. Bagi
anggota atau pemain yang menjaga vertical -biasanya hanya satu
orang-, penjaga ini mempunyai kewajiban untuk menjaga
keseluruhan garis vertikal yang terletak di tengah-tengah lapangan. Tim
jaga bertugas agar tim lawan tidak bisa menuju garis finish.
Nah, di sini
tim lawan atau penyerang harus gesit, harus berusaha melewati baris ke baris
hingga paling belakang, kemudian kembali lagi melewati penjagaan lawan hingga
sampai ke garis awal tanpa tersentuh oleh penjaga. Tim lawan harus berusaha
menuju garis finish dengan syarat semua pemain atau anggotanya tidak ada
yang tersentuh oleh tim penjaga, dan dapat memasuki garis finish asalkan tidak
ada anggota yang masih ada di wilayah start.
Tim lawan dikatakan menang apabila dari salah
satu anggota tim berhasil kembali ke garis start dengan selamat. Artinya tidak
tersentuh tim penjaga. Tim lawan kalah jika salah satu anggotanya tersentuh
oleh tim penjaga atau bisa jadi keluar dari batas garis permainan. Bila hal
tersebut terjadi harus ada pergantian posisi. Tim lawan menjadi tim
penjaga dan sebaliknya.
Di sinilah permainan ini
melatih kejujuran dan konsentrasi. Selain itu, setiap pemain harus bisa
belajar bekerja sama, menjaga kekompakan antar satu penjaga dan penjaga lainnya
agar lawan tidak lepas kendali untuk keluar dari penjagaan. Atur strategi agar
menang. Jika dalam permainan berlangsung
ada satu petak terdiri atas dua orang atau lebih, tim itu dinyatakan
gugur atau kalah, dan perlu dilakukan pergantian tim. Jadi, dalam
permainan ini setiap pemain harus tetap tenang dan berkonsentrasi penuh
dalam menjaga serta pergerakan mata harus cepat.
Kadang kala aku dan
teman-teman, bermain setelah pulang sekolah. Panas terik
matahari tak pernah kami hiraukan. Di tempat yang rindang, kami
bermain
hingga senja menjemput malam. Meski rentang waktu yang kami
habiskan untuk bermain cukup lama,
kami tetap merasa seolah-olah hanya sepersekian menit kami bermain. Itu tidak
lepas dari sifat permainan ini mengasyikkan sekaligus sangat sulit. Mengapa? Karena setiap
anggota tim harus selalu berjaga dan berlari secepat-cepatnya
untuk
meraih kemenangan.
Permainan slodor membutuhkan rasa percaya diri
yang tinggi. Ketika masih kecil, kami tidak pernah
berpikir untuk kalah duluan. Kami selalu terhadap kemampuan
bermain. Anak laki-laki bermain dengan anak laki-laki, dan anak perempuan
bermain dengan anak perempuan.
Karena hal-hal itu, aku sangat menyukai
permainan tradisionalku. Sangat
menyukainya sampai kini.
Laylatul
Maghfirah, mahasiswa angkatan 2014 Program Studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia, FIP, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan, Madura.

0 komentar:
Posting Komentar